Tuesday, August 24, 2010

Merantau (Not a Movie’s Title :))

Berdiri di atas balkon depan kamarku, di hari minggu nan sepi. Diwarnai dengan alunan lagu dari kicauan burung dipagi hari seraya menyambut datangnya fajar yang belum kunjung tiba untuk menampakkan sinarnya. Mengarahkan pandangan ke atas.. Hmmmm.. Memang mendung ternyata. Hembusan angin yang cukup terasa sambil termenung di balkon lantai 27 dengan menitikkan arah pandang ke hamparan pantai di depan, semakin membawa anganku kepada lamunan yang terdalam.

Tak terasa karena terbuai oleh lamunan di pagi hari, langitpun meneteskan butiran airnya satu persatu. Diselimuti kabut tipis yang sepertinya akan menunda kedatang sang mentari. Segera bergegas kembali ke peraduan karena tetesan air dari rintik hujan semakin membasahi balkon lantai 27 depan kamarku.

Suasana sejuk nan sunyi yang hanya ditemani oleh sebuah benda persegi berukuran 14", atau yang biasa disebut laptop, dengan santapan roti breadtalk yang sempat terbeli tadi malam setelah menghabiskan malam minggu bersama teman-teman, membawa anganku kembali kepada kampung halaman Indonesia tercinta yang berada tepat di kota Bekasi. Keadaan yang seperti ini seakan menimbulkan rasa rindu yang mendalam untuk pulang ke negeri tesayang, bercanda tawa dengan keluarga dan keponakanku yang masih lucu-lucu. Begitulah hidup dalam perantauan di negeri orang, jauh dari keluarga dan sanak saudara. Tapi hidup harus tetap terus berjalan, atau dalam bahasa Bekasi-nya "Life Must Go On."

Hidup merantau bukanlah suatu hal yang mudah dijalani bak membalikkan telapak tangan. Banyak halangan, rintangan, suka maupun duka yang harus dihadapi. Mungkin bukan hanya dalam dunia perantauan saja kita menemukan hal yang demikian, tapi yang namanya merantau jelas mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda karena segala sesuatunya merupakan hal yang baru dan bisa juga dikatakan asing bagi kita. Baik dari segi kultural, aturan, gaya hidup, bahkan hal seperti cita rasa sekalipun.

Bulan Agustus ini menggenapkan perantauan saya untuk masa satu tahun di negeri Filipina tepatnya di kota Manila. Karena masih dalam satu wilayah Asia tidak terdapat perbedaan yang terlalu signifikan dilihat dari segi ras penduduk setempat. Karena jika diperhatikan dari fisik luar, sulit atau bisa dikatakan tidak dapat dibedakan antara orang Indonesia ataupun Filipina. Karen secara garis besar untuk asia sendiri masih memiliki karakter fisik yang hampir sama. Hingga pada suatu saat, karena saya belum terlalu fasih berbahasa tagalog (baca: bahasa nasional Filipina), mencoba bertanya kepada seorang security dalam bahasa inggris: “Excuse me sir, how to get to MRT (salah satu alat transportasi monorail di Filipin -red)?” lalu diapun menjawab “diritso lang, tapos sa kanan.” Sayapun terbingung-bingung karena belum mengerti tagalog. Kemudia saya coba mengklarifikasikannya, “sorry sir, I don’t speak tagalog” dan diapun menjawab, “aahhh.. just go straight and turn right”. Mungkin karena penasaran dia lansung bertanya, “what is your nationality?” dan sayapun menjawab, “I’m from Indonesia sir” dan dia kembali menjawab, “ahhh.. I thought you are a Filipino, coz you look like Filipino.” Begitulah sebagian kecil dari pengalaman yang menunjukkan memang tidak ada perbedaan dari segi fisik antara Indonesian dan Filipino.

Filipina dengan ibu kota Manila, adalah merupakan Negara yang tidak begitu besar jika dibandingkan dengan Indonesia. Dengan luas dataran yang hanya 299,764 km² dan estimasi jumlah penduduk pada tahun 2009 yang hanya mencapai 94,013,200 penduduk dan menempatkan mereka pada urutan ke-12 dalam daftar jumlah penduduk dunia, berbeda 10 tingkat dengan Indonesia yang berada pada urutan ke-4. Untuk lebih detail lagi mengenai segi geografisnya pembaca dapat langsung melirik kepada tante Wikipedia. :)

Populasi warga Indonesia bisa dikatakan cukup besar di negeri ini, dan rata² mereka adalah para pelajar. Sedikit tertarik akan hal tersebut mencoba melakukan sedikit survey dan didapati bahwa biaya perkuliahan memang relatif murah di negeri ini. Bersamaan dengan hal tersebut, banyak nilai tambah yang dapat dipetik saat menimba ilmu di negeri ini. Selain biaya yang murah kita juga dapat terlatih dalam hal berbahasa inggris yang tidak dapat dipungkuri, kita (terlebih jajaran instutisional pendidikan) memiliki kelemahan dalam bidang tersebut. Karena bahasa pengantar yang digunakan dalam perkuliahan di sini adalah bahasa inggris, baik dari kalangan universitas yang terkenal bahkan yang tidak terkenal sekalipun. Itulah sedikit perbedaan yang bisa dikatakan cukup signifikan dengan sistem pendidikan di negara kita.

Beranjak dari rencana awal untuk melanjutkan kuliah, tetapi tersandung oleh sesuatu dan lain hal hingga akhirnya menempatkan saya dalam dunia pekerjaan oleh tawaran seorang teman di salah satu perusahaan computer micro chip ternama. Setahun terlewati sudah memberikan saya peluang yang cukup untuk beradaptasi dengan keadaan setempat. Disertai lingkungan pekerjaan yang mengharuskan saya cepat beradaptasi dengan keadaan sekitar. Hal inipun kembali mengingatkan saya akan rencana awal dari kedatangan saya ke negeri ini, dimana banyak pihak juga yang telah mengingatkan saya agar tidak terlalu terbuai dengan dunia pekerjaan dan segera menyelesaikan lanjutan studi saya.

Berdasarkan hal tersebut sayapun bergegas untuk mencari tempat perkuliahan yang sesuai dengan minat saya dan juga tentunya dengan kualitas Universitas yang mumpuni. Motivasi utama saya sebenarnya adalah ingin segera cepat menyelesaikan perkuliahan saya dan kembali kepada peraduan ibu pertiwi Indonesia. Setahun sudah cukup memberikan saya pengalaman yang membawa angan untuk segera kembali ke negeri tercinta. Bukan karena saya tidak kerasan untuk tinggal di negeri orang ini, tapi karena saya teringat akan lirik lagu yang disyairkan oleh Indonesian Voices God Bless dengan bunyi, “Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Segala nikmat dan anugerah yang kuasa, semuanya ada di sini. Rumah kita.” :)

Harapan kepada para pembaca yang menyempatkan diri untuk mampir dan membaca blog ini agar dapat mendoakan penulis dalam pertarungan awal atau bahkan yang baru akan memulai pertarungan sebenarnya dengan rencana lanjutan studi tersebut. Besar harapan dapat menyelesaikannya sedini mungkin dan kembali kepada kenikmatan sejati di rumah sendiri Indonesia.. :)

See you soon in Indonesia... MERDEKA!! ;)

2 comments:

  1. ..dalam bahasa bekasi(?)nya "Life must go on" :) Kontemplasi ya, tapi setelah itu harus ada tindak lanjutnya… Biar nggak percuma. GoodLuck ya,semangat!!!

    ReplyDelete
  2. Dons Dons ngilang ye sekarang, cibi udah onlen ga pake hp lagii neehh sesuai doa mu :D

    ReplyDelete